Review Novel Romansa Islami, Ayat-Ayat Cinta

Review Novel Romansa Islami, Ayat-Ayat Cinta

Ayat-ayat cinta merupakan sebuah novel religi karya Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pada tahun 2008. Novel yang mengangkat kisah percintaan berlandaskan agama islam ini memiliki dua buah seri yang ceritanya saling terkait satu sama lain, yaitu Ayat-ayat cinta seri pertama dan kedua. Novel ini menceritakan kisah asmara seorang pemuda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Al Azhar, Kairo bernama Muhammad Fahri. Semenjak kecil, Fahri dikenal giat dan rajin karena dibesarkan dari sebuah keluarga dengan latar belakang kurang mampu. Ayah dan ibu Fahri merupakan seorang pedagang kecil yang teguh beribadah. Melalui beasiswa yang diterimanya, Fahri mampu melanjutkan pendidikannya di Universitas ternama di Mesir tersebut.

Pertemuan Pertama Fahri Dengan Maria

Pada masa-masa kuliahnya di Mesir, Fahri tinggal di sebuah flat sederhana bersama teman-teman Indonesia. Fahri juga mulai mengenal anak perempuan pemilik flat bernama Maria dan berteman akrab dengannya. Gadis berdarah campuran Turki-Indonesia tersebut memiliki agama yang berbeda dengan Fahri, yaitu agama Kristen. Hari-hari kuliah di Al Azhar berlangsung secara lancar, hingga pada suatu hari Fahri bertemu dengan seorang gadis cantik yang memakai cadar dalam sebuah kereta. Gadis tersebut terlibat dalam perkelahian dengan seorang lelaki arab karena dituduh menolong seorang ibu asal Amerika. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian orang Arab memiliki pandangan bahwa orang asal barat adalah musuh (teroris). Fahri berusaha membantu gadis tersebut dengan berusaha untuk menenangkan lelaki arab. Sayangnya, orang tersebut tidak dapat menerima maksud baik Fahri dan malah melemparkan tinjuan ke wajah Fahri.

Pertemuan singkat di kereta antara Fahri dan gadis bercadar berlanjut dengan pembicaraan yang berlangsung di antara mereka dalam sebuah kafe. Gadis tersebut memperkenalkan diri sebagai seorang muslimah keturunan Indonesia-Jerman. Gadis bernama Aisha mengaku sebagai keponakan dari seseorang yang mengenal Guru Besar Fahri di Al Azhar. Pembicaraan antara Fahri dan Aisha tersebut berlangsung secara intens hingga mereka berdua tidak menyadari saling tertarik satu sama lain. Setelah pertemuan di kafe itu berlangsung, Fahri meminta tolong kepada Guru Besarnya untuk melakukan ta’aruf dan membantunya melamar Aisha. Tak lama kemudian, Fahri dan Aisha mengadakan upacara pernikahan yang dihadiri oleh keluarga dan teman-teman mereka di sana. Namun, kebahagiaan antara Fahri dan Aisha tidak berlangsung lama. Hal ini dikarenakan Fahri dituduh telah menodai seorang  gadis mesir bernama Nuroh. Fahripun dipenjara karena fitnah tersebut. Satu-satunya saksi yang dapat menolong Fahri adalah Maria.

Aisha Merelakan Fahri Bersama Maria

Sayangnya, pada saat kejadian tersebut berlangsung, Maria mengalami kecelakaan yang membuat dirinya kehilangan kesadaran. Keberadaan Fahri di sisi Maria menjadi motivasi bagi gadis ini untuk segera sembuh dan memberikan kesaksian. Mengetahui hal tersebut, Aisha memutuskan untuk mengorbankan perasaannya dengan meminta Fahri menikahi Maria agar Fahri dapat dibebaskan dari tuduhan. Pada awalnya, Fahri menolak permintaan tersebut. Namun, mengetahui betapa Aisha membutuhkan Fahri untuk menjadi sosok ayah bagi anak dalam kandungan istrinya tersebut, membuat Fahri bersedia untuk menikahi Maria. Mariapun menjadi seorang mualaf dan melangsungkan pernikahan dengan Fahri. Setelah pernikahan berlangsung, kesehatan Maria berangsur pulih dan pada akhirnya dapat membantu Fahri dengan memberikan kesaksian bahwa Fahri tidak bersalah. Hari demi hari, poligami yang dilakukan oleh Fahri tidak dapat berjalan secara mulus. Baik Aisha maupun Maria merasa cemburu pada satu sama lain. Untungnya perasaan tersebut tidak memburuk dan Fahri, Aisha, serta Maria dapat hidup bersama dengan damai.

Novel tersebut diakhiri dengan kematian Maria yang tidak dapat sembuh dari penyakitnya. Fahri dan Aishapun melanjutkan kehidupan pernikahan mereka berdua yang damai di Mesir.