Resensi Laskar Pelangi, Salah Satu Novel Terlaris Sepanjang Masa

Resensi Laskar Pelangi, Salah Satu Novel Terlaris Sepanjang Masa

Sebagian besar dari Anda tentu mengetahui mengenai salah satu novel terlaris yang juga dijadikan sebuah film nya itu laskar pelangi. Laskar pelangi sendiri merupakan novel pertama yang ditulis oleh Andre ya Hirata dan kemudian diterbitkan oleh penerbit Bentang pustaka pada tahun 2005 silam. Di dalam novel ini diceritakan mengenai kehidupan dari 10 anak yang berasal dari keluarga miskin. Mereka bersekolah mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama pada sekolah Muhamadiyah yang berada di pulau Belitung. Mereka juga dipenuhi dengan berbagai keterbatasan.

10 tokoh tersebut yaitu Ikal, lintang, Sahara, mahar, A Kiong, syahdan, Kucai, borek, Trapani, dan juga Harun. Mereka semua sekolah dan juga belajar di kelas yang sama semenjak kelas satu sekolah dasar sampai kelas tiga sekolah menengah pertama. Mereka menyebut diri mereka dengan nama laskar pelangi. Di bagian akhir cerita, anggota dari laskar pelangi ini bertambah menjadi 11 orang. Satu orang yang masuk yaitu seorang anak perempuan pindahan bernama Flo.

Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa keterbatasan yang mereka hadapi bukan menjadi alasan mereka untuk mudah putus asa, namun membuat mereka semakin terpacu untuk melakukan berbagai hal yang lebih baik lagi. Buku ini sendiri merupakan buku yang pertama dari Tetralogi mengenai laskar pelangi. Laskar pelangi sendiri merupakan buku yang penjualannya drastis dan juga diangkat sebagai film yang banyak mengundang penonton sepanjang sejarah.

Bukan hanya 10 tokoh yang ada di dalam buku tersebut, terdapat beberapa tokoh lain yang mendukung jalannya cerita yaitu ibu Muslimah yang merupakan guru dari para anggota laskar pelangi. Dirinya merupakan wanita yang sangat lembut dan juga huruf pertama di sekolah mereka. Kemudian ada pak Harfan, yang menjadi kepala sekolah Muhamadiyah. Dirinya merupakan sosok yang sangat baik hati serta sabar.

Novel Laskar Pelangi

Tentunya tidak ada yang sempurna dalam suatu penulisan, begitu pula di dalam buku ini. Kelemahan yang ditemukan yaitu adanya penggunaan nama ilmiah pada cerita di dalamnya. Hal ini tentunya membuat para pembaca menjadi tidak terlalu nyaman ketika membaca cerita tersebut. Bukan hanya itu saja, Glosarium yang diletakkan pada bagian akhir novel juga menyulitkan para pembaca.

Hal ini tentunya membuat para pembaca merasa tidak praktis ketika ingin memahami berbagai istilah yang ada. Alur cerita yang diberikan juga tidak terlalu jelas. Alur ceritanya dibuat bolak balik sehingga membuat bingung para pembaca. Selain itu, juga tidak disebutkan pada tahun berapa setiap peristiwa tersebut terjadi. Namun tentunya ada kelebihan yang diberikan oleh buku ini. Kelebihan dari buku ini yaitu cerita persahabatan serta rasa Kesetiakawanan yang sangat erat dan juga diberikan pesan penting bahwa pendidikan sangat utama untuk diprioritaskan.

Banyak sekali kisah mengharukan di dalam cerita tersebut. Dari novel tersebut, kita dapat belajar mengenai beberapa pelajaran hidup, yaitu seperti lebih menghargai hidup, menghargai segala yang sudah Tuhan berikan, serta tidak mudah menyerah ketika ingin mencapai sesuatu. Pintar bukan jaminan untuk kesuksesan, tetapi usaha yang keras haruslah terus dilakukan.