Novel Pendidikan Legendaris Karangan Anak Bangsa

Bantu Share Ke Teman Anda Dengan Menekan Tombol Dibawah Ini!

Novel Pendidikan Legendaris Karangan Anak Bangsa Mendengar kata Legendaris sudah terpintas dalam benak tentang jadul, kuno, malas, dan membosankan. Kalian pasti berfikir bahwa novel legendaris pasti berisi kalimat-kalimat yang susah dipahami dan jalan ceritanya berat. Jika kalian saja tidak suka belajar dengan membaca buku pelajaran yang tebal, apalagi membaca bacaan novel dengan gaya bahasa berat. Walaupun novel-novel yang akan dibahas kali ini merupakan novel legendari dan telah dikarang dari berabad-abad tahun. Tetapi, makna dari novel legendaris lebih ingin menyampaikan keadaan pada saat itu maupun menanamkan sebuah pendidikan didalamnya. Kali ini akan dibahas terkait novel legendaris yang mencantumkan makna nilai-nilai pendidikan.

Pertama novel berjudul bumi manusia. Siapa yang tidak kenal dengan buku satu ini, dijamin semua kalangan mahasiswa yang menyukai novel dan sejarah pasti mengenalnya. Novel bumi manusia menggunakan gaya bahasa sastra jaman dahulu yang dipenuhi dengan kata-kata penuh makna dan susah dipahami. Novel ini sebenarnya sangat wajib dibaca oleh para muda-mudi untuk lebih mengenal perjuangan masyarakat Indonesia jaman dahulu dalam menumpas penjajahan. Pengarangnya bernama Pramoedya Ananta Toer yang dikenal sebagai penulis legendaris dengan berbagai prestasinya hingga Internasional. Saat menulisnya pun beliau sedang berada pada masa pengasingan di Pulau Buru. Kedua, novel karangan Soe Hok Gie yang mencatatkan kisah-kisah semangat terkait pergerakan dan menjadi seorang demonstran dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Adanya novel ini berhasil menjadi panutan bagi para mahasiswa hingga membuat pergerakan besar di tahun 1980. Ketiga, novel Hujan Di Bulan Juni yang dikarang oleh Sapardi Djoko Damono. Novel ini berisikan tentang kumpulan puisi dan masih digunakan oleh dunia pendidikan di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga, semua anak-anak Indonesia tak jarang ingat dengan judul novel ini. Novel Hujan di Bulan Juni berisikan kalimat-kalimat sastra penuh yang menceritakan sepasang kekasih dimabuk asmara dengan perbedaan latar belakang. Walaupun, pengunaan bahasa sastra di setiap kalimat dan lebih seperti puisi. Tetapi, isi ceritanya mudah dimengerti dan dipahami oleh berbagai kalangan umur. Keempat, novel karangan Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi dan telah diadaptasikan ke sebuah film layar lebar menceritakan tentang persahabatan anak-anak dari daerah Bangka Belitung. Dengan kesederhanaan yang mereka bawa sejak lahir tidak memutuskan semangat untuk mengejar impian dan keterbatasan pendidikan di lingkungannya tidak menjadi halangan menjadi orang sukses.

BACA JUGA : 9 Pengarang Novel Yang Kurang Dikenal Masyarakat Indonesia 

Kelima, Rectoverso oleh Dewi Lestari yang berisikan jalan cerita tentang persahabatan antara pria dan perempuan. Kehidupan persahabatan tersebut dipenuhi dengan berbagai aktifitas bersama. Yang membuat perbedaan dan berisi makna terdapat pada curhatan antara seorang wanita kepada seorang laki-laki. Dewi Lestari ingin menunjukkan fenomena nyata perbedaan antara lelaki dan perempuan atas respon mereka terhadap satu sama lain sebagai sahabat bukan sepasang kekasih. Terakhir, novel berjudul penari yang ditulis oleh penulis Ahmad Tohari. Dalam novel ini, diceritakan kisah cinta sang penari Ronggeng dengan teman masa kecil ketika besar menjadi seorang tentara. Seorang penari Ronggeng tersebut tinggal di desa kecil bernama Dukuh Paruk. Dari beberapa macam judul novel legendaris diatas hampri semuanya dikarang pada masa penjajahan. Sehingga, ceritanya lebih menuliskan tentang sejarah penjajahan dan keadaan Indonesia jaman dulunya. Walaupun tidak terlalu terlihat jalan ceritanya tentang sejarah, namun bisa dipetik pelajaran-pelajaran perjuangan masyarakat jaman dahulu ataupun kisah salah seorang dari pertahanan diri di masa lalu. Semoga dengan membaca artikel ini bisa membuat anda semakin tertarik membaca novel.