9 Pengarang Novel Yang Kurang Dikenal Masyarakat Indonesia

Bantu Share Ke Teman Anda Dengan Menekan Tombol Dibawah Ini!

9 Pengarang Novel Yang Kurang Dikenal Masyarakat Indonesia Indonesia memang terkenal ketinggalan berbagai macam hal dibandingkan dengan negara-negara lain. Terutama dengan negara tetangganya yang dulu sempat menjadi satu kesatuan yakni negara Malaysia. Malaysia lebih maju dibandingkan negara Indonesia baik dibidang teknologi, transportasi hingga nilai mata uang negara. Malaysia bahkan lebih dulu maju dalam  produksi kartun layar kaca, lalu ada pula kecanggihan-kecanggihan teknologi yang telah diterapkan di negara masing-masing. Akan tetapi, untuk masalah dunia industri kesenian Indonesia lebih unggul. Terbukti dari perfilman Indonesia yang mampu menembus pasar Internasional serta para artis dari Indonesia juga berhasil beradu akting dengan kelas selebritis Internasional. Peraihan keunggulan negara Indonesia tidak hanya berhenti diperfilman, tetapi juga pada novel-novel karangan anak bangsa yang juga berhasil menorehkan prestasi.

Kemenangan tersebut diusahakan oleh anak-anak bangsa yang selalu mengasah bakatnya tanpa putus asa dan selalu semangat dalam menciptakan karya. Mungkin selama ini beberapa penghargaan dari dunia literasi dimenangkan oleh pengarang-pengarang novel yang kita kenal saja, seperti Asma Nadia, Pidi Baiq, Raditya Dika, Tere Liye, Andrea Hirata dan Dewi Lestari. Namun, para penulis yang banyak kita ketahui saat ini penghagaannya hanya terhenti di Indonesia dan dikenal oleh masyarakat Indonesia saja.

 

Asal kalian ketahui banyak penulis Indonesia berprestasi yang jarang terdengar di telinga tetapi dikenal hingga ke kanca Internasional, diantaranya: Pramoedya Ananta Toer yang telah menghasilkan 50 karangan buku dan tulisannya diterjemahkan ke 41 bahasa asing dari berbagai negara lain. Beliau berhasil terkenal ke Internasional melalui empat novelnya, salah satu judul novel tersebut ialah Tetralogi Pulau Buru. Kemudian Suwarsih Djojopuspito seorang penulis perempuan yang mampu menulis novel dalam tiga bahasa yaitu Sunda, Belanda, dan Indonesia. Salah satu karya novel yang terkenal dan masih ada di perpustakaan-perpustakaan ialah Manusia Bebas (Buitenj het Gareel). Ada pula Taufiq Ismail seorang penyair dan sastrawan yang leih sering menciptakan sebuah syair dibandingkan sebuah novel. Atau terkadang Taufiq Ismail membuat novel yang jalan ceritanya diungkapkan dengan bait-bait syair. Karyanya tersebut berhasil menorehkan prestasi dari Anugerah Seni tahun 1970, Cultural visit Award tahun 1977, dan South East Asia Write Award tahun 1994. Berikutnya Mochtar Lubis yang awalnya berkarir sebagai jurnalis dan memiliki hobi menjadi penulis. Hobinya beliau kembangkan hingga menghasilkan sebuah karangan yang berjudul Tidak Ada Esok, Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Tanah Gersang, Harimau! Harimau! Serta Maut dan Cinta. Semua novel-novel yang beliau ciptakan berhasil meraih prestasi di ajang Ramon Magsaysay Award dan World Association of Newspaper Goleden Pen Of Freedom Award dengan penerjemahan novel ke bahasa Inggris.

Terakhir, penulis Ahmad Tohari yang menciptakan novel Penari. Novel tersebut berhasil terkenal hingga Internasional dan meraih berbagai penghargaan. Pada awalnya novel Penari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk dan di rubah pada saat novel ini diangkat sebagai film. Karya lain dari Ahmad Tohari antara lain Kubah, Bekisar Merah dan Orang-Orang Proyek. Berbagai karyanya juga diterjemahkan ke Bahasa Jepang, Bahasa Cina, Belanda dan Jerman. Penulis lainnya yang terkenal hingga ke manca negara dan jarang didengar oleh telinga masyarakat ada NH Dini, Eka Kurniawan, dan Ayu Utami. Ketiga penulis terkahir ini berhasil mengenalkan namanya ke kancah Internasional melalui karya-karya novelnya. Dari Ayu Utami yang dikenal melalui novel berjudul Saman, Eka Kurniawan dari novel terlarisnya yang berjudul Cantik Itu Luka dan NH Dini terkenal karena karyanya berjudul Pada Sebuah Kapal, La Barka dan Pertemuan Dua Hati.

2 thoughts on “9 Pengarang Novel Yang Kurang Dikenal Masyarakat Indonesia

  1. Ya begitulah manusia sekarang, suaknya sama yang penulis alay-alay aja. padahal kalo dilihat dari segi penulisan yang dulu2 lebih bagus ketimbang sekarang. miris

  2. meskipun nama penulis jarang terdengar ditelinga masyarakat, tapi setidaknya buku yg beliau hasilkan sudah banyak menginspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *